film

FULL REVIEW AMAAMA TO INAZUMA : Serial Animasi yang selalu Bikin Lapar

11.03.00

Sabtu, 03 Juni 2017 16.30

Marhaban Yaa Ramadhan ! Alhamdulillah, bisa masuk di bulan suci ini rasanya bersyukur banget. Karena gua sudah melihat banyak orang yang berharap bisa merasakan bulan Ramadhan, tapi umurnya tidak sampai. Jadi pertama gua mau kita bersyukur bisa merasakan suasana langka di tahun ini.

                —Alhamdulillah...
               
Suasana bulan puasa memang unik, apalagi kalau kita tinggal di Indonesia. Mulai dari beragam iklan makanan yang tak disensor kalau siang, beragamnya santapan buka puasa yang muncul dadakan di pinggir jalan, beragam undangan ajang kumpul bersama saat sahur maupun berbuka, hingga beragamnya kegiatan saat menunggu berbuka atau disebut ngabuburit. Mungkin cuma di Indonesia event ngabuburit ini di adakan, tentu ada manfaat di dalamnya, yaitu untuk mengatasi rasa lapar dahaga karena pada jam-jam krusial itulah kumandang azan sangat dirindukan. Melebihi rindu seorang pekerja yang menanti uang THR bosnya maupun seorang anak kos yang menanti uang bulanannya terkirim.
               
Pas nih jam segini waktunya ngabuburit. Di saat orang-orang ngabuburit-nya sangat mainstream, gua kali mengajak kalian ngabuburit untuk ngomongin sesuatu yang berhubungan dengan event setelah ngabuburit, yaitu berbuka. Tepatnya kita akan bahas tentang makanan.

                —itu malah makin bikin laper kali

Sesuai lah sama judul, tapi artikel ini gua rekomendasi bacanya jangan pas puasa. Sebenarnya yang gua bahas bukan makanan, gua akan review serial animasi timur alias anime yang berkaitan dengan makanan, ya itulah Amaama to Inazuma, yang berarti Sweetness and Lightning, bisa diartikan jadi “manis dan ramah”. Anime ini gua habis tonton beberapa bulan lalu, gara-gara ketemu rekomendasi film yang ringan ditonton di dunia maya. Gua menduga jalan ceritanya akan membosankan karena “ringan”, tetapi setelah menonton habis, gua berpikir, ini unik banget.


Meskipun hanya bergenre slice of life dan family, yang bikin unik yaitu bagaimana penulis cerita yang menggabungkan cerita kehidupan biasa dengan makanan, pada setengah cerita tentang kehidupan si karakternya, lalu di akhirnya kita disuguhkan tontonan bagaikan acara memasak di televisi. 



Sekilas anime ini bercerita tentang kehidupan sehari-hari ayah yang seorang single-parent dengan seorang anak perempuannya yang masih kecil. Sang ayah yang tegar mengurusi anaknya sendirian selalu berusaha agar anaknya bahagia. Tidak adanya sosok istri membuat sang ayah selalu menyediakan makanan instan bagi putrinya. Ada rasa ingin membahagiakan putrinya dengan makanan buatannya, sang ayah yang seorang guru akhirnya bertemu dengan muridnya yang keluarganya pandai memasak. Lalu dimulailah pelajaran memasak bagi si ayah. Semula niat ayahnya hanya ingin putrinya bisa makan makanan yang pantas, namun akhirnya sang ayah menemukan sesuatu yang lebih dari itu, yaitu kebersamaan dan kekeluargaan. 


Itu sedikit sinopsisnya, kalau mau tahu lengkapnya bisa tonton atau baca review ini di bagian cerita. Serial anime ini tayang di musim panas 2016, kira-kira antara bulan Juli-September. Jumlahnya 12 episode untuk 3 bulan. Anime ini juga memiliki versi manga-nya yang terbit tahun 2013 dan sampai gua tulis ini masih berlanjut manga-nya.

Berikut trailer animasinya :


Bahasannya selanjutnya dari nomor 1 sampai 5 gua peringatkan karena mengandung HIGH SPOILER! Kita mulai bahas anime ini dengan 5 aspek :

1.       KARAKTER
| Inuzuka Kohei



Sang pemeran utama, sosok ayah yang menurut gua ayah yang biasa/normal. Setelah kematian istrinya, Inuzuka Tae, terlihat Kohei mulai membiasakan diri menjadi single-parent bagi anaknya, Tsumugi. Dia seorang guru Matematika SMA yang hampir selalu sibuk, sehingga hampir jarang bersama putrinya. Meskipun begitu, ia sangat menyayangi putrinya dan selalu ingin membahagiakannya. Sampai akhirnya Kohei khawatir saat putrinya tiba-tiba ingin makan enak pada suatu malam yang rata-rata warung mulai tutup. Tapi beruntung sebelumnya ia bertemu muridnya, Kotori, yang memiliki warung keluarganya, Megumi, yang masih buka.



Semenjak saat itulah keluarga Inuzuka sering mampir ke warung Megumi, dengan izin pemilik tentunya, awalnya cuma agar putrinya bisa makan enak, tetapi Kohei juga mulai belajar memasak agar di rumah ia bisa memasakkan makanan untuk putrinya. Dengan pergi ke warung itulah sang ayah bisa makin dekat dan makan bersama dengan putrinya. 

Ayah Tsumugi mudah belajar hal baru, contohnya yang awalnya kaku saat memakai pisau lama-kelamaan lancar dalam memasak, meskipun masih butuh bantuan resep.



Selain itu karakter ini sifatnya sederhana, sabar, penyayang, optimis, ramah, dan dewasa. Kalau di dunia nyata kayaknya jadi ayah idaman banget ini. Tapi menurut gua sifatnya wajar karena ia seorang guru yang menjadi teladan bagi muridnya. Meskipun kelihatannya keluarga ini idaman banget, dengan ayah yang baik dan anaknya yang lucu, tetapi pasti ada permasalahan yang terjadi. Dan di tiap episode saat ada permasalahan, solusinya muncul saat adegan memasaknya. 

                —wah, unik ya, tiap ada masalah diselesaiin pakai makanan, khususnya masalah perut tentunya

Ya iyalah! masalah perut keroncongan cuma makanan solusinya.


| Inuzuka Tsumugi

Hal yang menjadi ciri khas anime ini, yaitu karakter yang lovely, membuat tertarik untuk nonton. Dengan kelucuan tingkah laku anak-anak, Tsumugi menjadi bumbu yang membuat anime ini begitu manis. 


Tsumugi adalah anak yang periang, aktif, selalu bersemangat, dan mudah bergaul. Sifat ini makin terlihat di saat bersama teman-teman TK-nya maupun dengan karakter lain. Dia juga suka makan meskipun selalu pilih-pilih,  suka menggambar dan menonton film magical girl. Tsumugi sangat sayang ayahnya, apalagi saat ia tahu ayahnya berjuang untuk memasak untuknya. Bahkan, Tsumugi mau inisiatif pergi sendiri meminta pertolongan ke rumah Kotori saat ayahnya terbaring sakit.


Problem utama yang dialami Tsumugi hanyalah tidak adanya sosok ibu. Beruntung ayahnya selalu memperhatikannya jadi Tsumugi tidak pernah merasa kesepian, apalagi sejak bertemu Kotori dan kawannya, Shinobu, mereka makin akrab karena saling mencocoki.


Namanya juga anak-anak, ada saatnya penonton diajak berimajinasi bersama Tsumugi. Saat Tsumugi berjalan ke rumah Kotori sendirian, sepanjang perjalanan kita diajak bernyanyi dan bertualang di perjalanan. Sesuatu yang jarang kita lihat di anak-anak jaman sekarang. 


Kelihatannya Tsumugi seperti anak yang penurut dan baik, tapi tunggu dulu. Akan ada muncul saat-saat Tsumugi rewel, pasti bikin ayahnya pusing dan ingin memarahinya apalagi sampai Tsumugi teriak-teriak nangis. Hmph, jadi orang tua memang merepotkan ya. 


Penampakan Tsumugi memiliki warna mata hijau mirip ayahnya, dan rambut pirang yang cukup panjang bagi anak-anak, mirip ibunya sih. Sekilas mirip karakter Naru di serial anime Barakamon tapi versi rambut panjang. Gua kira pengisi suara mereka sama, tapi ternyata beda. Pengisi suara Tsumugi juga main di Barakamon tapi bukan mengisi suara Naru.


Tsumugi juga sesekali mencoba membantu ayahnya memasak di warung Megumi, dan merasa senang sekali saat memakan hasil masakannya. Apalagi bisa makan di warung Megumi bersama ayah dan kawan-kawannya, serasa nuansa makan bersama keluarga, yang jarang Tsumugi alami saat ibunya tiada.

                —beruntunglah yang masih punya emak, apalagi yang jago masak, the best lah 


| Yagi Yusuke


Yagi adalah teman Kohei selama SMA yang sekarang bekerja di sebuah restoran. Perawakannya tinggi dan berambut pirang. Tidak seperti Kohei, Yagi terlihat lebih santai. Ia sering menemani Tsumugi di saat Kohei sedang bekerja. Tsumugi menyukai Yagi meskipun Yagi sering menjahilinya. Awal kemunculannya bersama Tsumugi membuat Kotori mencurigainya sebagai penculik anak. 


Karena bekerja di restoran, Yagi punya kemampuan memasak yang di atas rata-rata. Karena ia kadang berbelanja sayur di rumah Shinobu, ia juga sering diajak Shinobu untuk membantu memasak di warung Megumi bersama Kotori dan Kohei.


Ia juga nge-fans pada ibu Kotori, Iida Megumi yang merupakan juru masak yang cukup terkenal. Terlihat saat ia tahu kalau ibu Kotori akan pulang, Yagi datang ke warungnya dengan pakaian formal sambil membawa oleh-oleh. 

                Gile, fans sejati mah, ngasih sesuatu ke idolanya, bukan minta sesuatu



| Iida Kotori

Sama seperti keluarga Inuzuka, Kotori adalah karakter yang selalu muncul di anime ini. Sejak awal kemunculannya, dia adalah karakter yang sifatnya suka makan apa saja, mungkin karena keluarganya memiliki warung. Meskipun suka makan, gak kelihatan tanda-tanda kegemukan. Mungkin karakter ini didamba para kaum hawa, yang bisa makan apa saja tanpa takut gemuk. Gua juga iri sih. 

                —iri sama dia yang suka makan dan gak gemuk-gemuk?

Bukan, iri sama dia yang selalu disediakan ibunya makanan-makanan enak. Habisnya, hampir tiap adegan Kotori selalu megang makanan yang berbeda-beda, bikin laper pastinya.


Kalau dilihat sekilas, Kotori mirip karakter Karin di serial Naruto Shippuden. Yang berbeda hanya rambutnya biru tua panjang, matanya yang berwarna cyan, dan ia berkacamata yang jarang ia pakai. Satu hal yang bikin gua penasaran yaitu pipinya yang selalu merah atau kalau dalam penggambaran anime, garis-garis merah di bawah matanya. Awalnya gua berpikir itu karena dampak Kotori doyan makan, tapi gua menyadari kalau suka makannya itu adalah semacam bentuk pelampiasan perasaannya, khususnya perasaannya pada ibunya. Kelihatan sih dia saat makan selalu sendirian sambil memikirkan sesuatu.


Dibalik sosok Kotori, siapa sangka kalau kehidupan karakter ini tidak seenak makanan yang sering ia makan? Kotori adalah putri satu-satunya Iida Megumi, yang bercerai dengan suaminya saat Kotori masih kelas 3 SD. Ia hampir sama dengan Tsumugi yang rindu sosok ibu, Kotori sangat merindukan sosok ayah. Makanya saat Kohei mampir ke warungnya, Kotori sangat senang. 

Bahkan saking senangnya, ia meminta gurunya itu dan anaknya untuk bisa makan bersama di warungnya. Karena warungnya yang sudah jarang pengunjung dan Kotori hanya ingin lampu warungnya selalu menyala. Kotori langsung akrab dengan Tsumugi yang mulai menyukainya dan warungnya. Sehingga Kohei selalu diizinkan Kotori dan ibunya untuk memasak di warungnya.


Kehidupan Kotori di SMA juga tak jauh beda, ia tidak mudah akrab dengan teman sekelasnya. Ia hanya punya teman yang beda kelas, yaitu Shinobu, yang juga tetangganya. Mungkin teman sekelasnya agak canggung atau segan karena ibunya Kotori yang merupakan ahli masak terkenal. Alhasil, Kotori sering menyendiri di mejanya atau duduk di luar lorong sekolah sambil menyantap makanannya. Kotori dan Kohei sering bertemu dan ngobrol di luar lorong sekolah. Di tempat itulah Kohei sesekali berbincang tentang jadwal kapan bisa ke warung Megumi, berkonsultasi tentang makanan yang cocok untuk anaknya, maupun tips memasak. Kotori pun selalu memberi saran dan meminta ibunya membuatkan resepnya sebelum eksekusi memasak bersama dilakukan.


Tak hanya rindu sosok ayah, Kotori mulai rindu ibunya yang sering keluar untuk bekerja sehingga Kotori sering sendirian, saat bangun tidur pun ia hanya bertemu dengan santapan sarapan yang dibuat ibunya. Jadi Kotori senang dengan kesepakatan dengan gurunya yang saling menguntungkan : Kohei bisa belajar memasak untuk putrinya, dan Kotori yang ingin merasakan suasana kekeluargaan dengan masak dan makan bersama.


Meskipun ia terlihat suka menyendiri, tapi pada akhirnya ia bisa berteman dengan sekelasnya karena bakat masak dan makannya, serta akibat pengaruh Shinobu saat makan bersama yang awalnya hanya bersama keluarga Inuzuka, akhirnya bertambah dengan Yagi dan Shinobu.


Sebenarnya Kotori pandai masak, tapi ia punya fobia benda tajam, saat kecil ia punya pengalaman buruk dengan pisau dapur, terlihat di jarinya ada plester yang selalu melekat. Jadi ia seperti memanfaatkan gurunya sebagai tukang potong. Pada sesi masak-masak, Kotori lebih banyak bertindak sebagai narator dari resep ibunya, dan Kohei mengeksekusinya. Meskipun resep ibu Kotori agak aneh karena dia tidak hanya menuliskannya, tetapi juga menggambarnya! 


Ngomong-ngomong tentang ibu Kotori, Iida Megumi, dia seorang ahli masak yang sering muncul di televisi. Meskipun Kotori saat menontonnya agak shock karena ibunya kelihatan norak. Sekilas, penampilan Megumi mirip Tendo Kasumi, kakak tertua Akane dalam serial Ranma 1/2. Meski jarang muncul, sebenarnya karakter ini agak kontroversial bagi para penonton. Tapi gua gak akan bahas itu. Bagi Kotori, ibunya seakan-akan selalu mengabaikannya, namun menurut ibunya, ia menganggap Kotori sudah dewasa. Saat Kotori bertanya perihal ibunya kepada gurunya, Kohei berkata bahwa orang tua pasti selalu memikirkan anaknya, tetapi tidak pernah ditunjukkan kepada anaknya karena pasti akan mempengaruhi pekerjaannya yang juga berpengaruh ke kehidupan anaknya. 

                —bener juga sih, orang tua sibuk ya semata-mata untuk menghidupi anak-anaknya


| Kojika Shinobu

Dia adalah yang pada awalnya cuma satu-satunya teman Kotori sebelum Kotori mulai bisa mudah berteman. Awal kemunculannya saat Kotori melakukan ritual kebiasaannya, yaitu makan sendirian di kelas pada saat istirahat, Shinobu yang kelasnya di sebelah datang sambil bawa makanan yang gak kalah besar dari Kotori. Yang akhirnya mereka makan bersama.


Shinobu adalah teman SMP Kotori dan juga tetangganya. Keluarganya punya toko sayur, jadi ibu Shinobu maupun Kotori akrab karena satu hobi yaitu memasak. Selain ibu mereka, hal yang mirip antara Shinobu dan Kotori adalah, mereka suka makan! Agak bingung gua, apa cuma di sini perempuan yang biasanya takut gemuk malah suka makan, dan memang badan mereka gak tambah besar!


Shinobu sifatnya kebalikan Kotori, Kotori yang pemalu dan jarang berinteraksi dibanding Shinobu yang agak tomboi, berisik dan gampang ikut campur urusan orang lain. Sifatnya mungkin akibat ia harus mengurus kedua adik laki-lakinya yang cukup merepotkan.


Penampilannya cukup menarik perhatian selain sifatnya. Dengan rambut pirang panjang dengan dua kunciran mirip karakter Usagi di animasi Sailor Moon, mata coklat dengan pupil yang sangat lonjong yang mirip kucing, apalagi gigi taring yang hampir selalu terlihat, makin mirip kucing. Mungkin Tsumugi kalau dewasa kayak Shinobu, karena mereka hampir mirip kalau dilihat sekilas.


Shinobu ahli memasak seperti Yagi. Jadi dia sering membantu di warung Megumi saat scene memasak. Kadang Shinobu kesal kepada Yagi yang gregetan ingin ambil alih proses memasak karena amatirnya Kohei dan Kotori saat memasak. Karena Shinobu tahu saat Kohei dan Kotori memasak bersama, itu adalah momen yang harus dijaga.

                —momen ya? Ada yang bilang momen itu bagusnya diabadikan, tapi kan gak ada yang abadi di dunia ini



2.       CERITA

Kekuatan animasi serial genre slice of life adalah di bagian ceritanya yang ringan dan tak terlalu terikat satu episode dengan episode lain. Tiap episode selalu khas dengan kehidupan sehari-hari dan yang pasti ada masak-masakan di akhirnya. Sebenarnya jarang banget animasi yang bertemakan kuliner, terakhir gua tonton yaitu anime Cooking Master Boy, tapi bedanya cuma gak ada adegan lebai-nya memasak seperti mengiris sayur dengan kecepatan kilat dan makanan yang terbang-terbangan saat dimasak.


Di episode pertama cukup sederhana karena masih pengenalan karakter, dan memasaknya hanya nasi saja. Meskipun begitu, suasana keluarganya bikin menyadari kalau makan bersama memang yang terbaik. Baru di episode selanjutnya satu-persatu muncul makanan-makanan lain. Kebanyakan sih makanan khas Jepang sana, tapi boleh lah kalau dicoba, tapi jangan coba yang ada daging babinya, karena Absolutely Haram.


Di dalam ceritanya juga ada pengetahuan tips memasak yang bisa diambil. Selain cerita, satu hal yang bikin gua merasa agak bingung, yaitu judul animasi ini Sweetness and Lightning, Sweetness atau manis mungkin berhubungan dengan makanan, dan Lightning atau ringan berhubungan dengan slice of life-nya. Kemungkinan judul ini dibahas di manga-nya gimana penulisnya mutusin judulnya. 

                —malahan unik kali judul beginian

3.       PESAN MORAL

Cerita yang bagus selain menghibur, harus ada pesan moral atau pelajaran yang diambil. Apalagi cerita yang genre-nya slice of life, dekat sekali dengan kehidupan dunia nyata. Kebanyakan nilai moral bisa didapat dari keluarga Inuzuka.


Dimulai dari sang ayah, Kohei, yang jadi sosok ayah dan guru yang bagus dijadikan panutan. Dia tipe orang yang mudah belajar akan sesuatu, makanya dia sepanjang episode makin mahir memasak. Sebuah hal yang jarang di rumah tangga di mana sang ayah yang jago masak. Sang ayah bahkan tidak malu untuk belajar masak dari muridnya, menunjukkan bahwa ilmu bisa didapat dari siapa saja. Berawal hanya terpaku mengikuti resep masakan, hingga bisa mencoba eksperimen sendiri.


Sang anak, Tsumugi yang lugu pun memberi kita pelajaran, khususnya orang tua, bahwa kehadiran orang tua disisi anak lebih penting di banding segala hal yang diberikan orang tua. Para orang tua seakan-akan ditampar di adegan saat Tsumugi merindukan masakan ibunya dan Kohei hanya bisa menyediakan makanan instan. Ataupun di saat Tsumugi berkata kepada ayahnya bahwa ia sudah lama tidak makan seperti ini (maksudnya makan bersama keluarga) karena sebelumnya Tsumugi selalu makan sendiri sambil menonton acara kesukaannya sedangkan ayahnya sibuk mengurus rumah sepeninggal istrinya.


Ada kalanya Tsumugi dan ayahnya marahan, Kohei akan membuat penonton belajar cara memarahi yang benar. Tetapi tetap saja keluguan Tsumugi-lah yang membuat ayahnya termotivasi untuk selalu membahagiakan putrinya, meskipun sering menjadi kelinci percobaan masakan buatan ayahnya, kekhawatiran sang ayah meluntur setelah Tsumugi akhirnya senang memakan masakannya. 

Saat belajar memasak, Kohei kadang tidak selalu berhasil sesuai keinginan. Belajar tanpa kesalahan rasanya tidak disebut belajar, lagi pula memasak memang perlu latihan. Namanya juga anak-anak, Tsumugi pernah pilih-pilih makanan, khususnya sayuran. Tapi di animasi ini solusinya adalah mengajak anak-anak ikut serta membantu memasak, jadi anak tahu sulitnya membuat makanan.


Pelajaran juga bisa didapat dari karakter Kotori. Kotori yang selalu kesal di saat ibunya tidak ada bersamanya di saat yang tepat, tidak pernah marah kepada ibunya.

gimana mau marah coba, tiap hari ibunya ngasih makan enak tiap hari

Tapi lambat laun Kotori mulai mengerti keadaan ibunya yang bekerja untuknya. Selain itu, Kotori yang awalnya sulit berteman, pada acara festival sekolah, kelasnya ingin membuat kedai makanan. Di situlah Kotori diminta teman sekelasnya merekomendasikan makanan yang cocok untuk dijual karena Kotori terkenal dengan lidah perasanya dan hobi makannya. Yang akhirnya membuat Kotori mulai bisa berteman. Di sini pelajarannya bahwa kalau kita dipercaya seseorang, maka kita harus melakukan hal yang terbaik.


4.       VISUAL

Menurut gua tampilan animasi ini gak terlalu spesial amat, masih biasa untuk animasi serial. Karena sejatinya animasi serial lebih ditekankan pada cerita, bukan visual. Beda cerita kalau bahas animasi movie, cerita dan visualnya harus memukau. 

Visualnya masih wajar karena bukan genre fantasy, dan mungkin karena diadaptasi dari manga, penggambaran dari jarak jauh tidak detail kecuali saat scene yang fokus ke pemandangan. Kalau penggambaran close up atau jarak dekat gua akui detailnya jempol banget.


Detail gambar karakternya cukup bagus dan yang paling memuaskan mata ya detail gambar makanannya saat dimasak dan disajikan, yang menjadi khasnya animasi ini. Setidaknya saat nonton ini air liur mulai menampung di mulut. Ingin rasanya ikut juga mencicipi sedikit masakannya.

                —inget masih belum buka bang! Puasa!



5.       AUDIO

Dari segi suara, cukup menenangkan. Karena genre family, tidak ada background music yang menegangkan bagaikan peperangan. Hampir semua tema background music-nya cukup membahagiakan. 

Kalau soal pengisi suaranya menurut gua sesuai dan gak ada yang kata-kata yang bikin bingung. Intinya seiyuu atau pengisi suaranya profesional buat animasi yang bikin penonton merasa masuk ke dalam ceritanya. Mungkin kekurangannya yaitu kurang ada suara pemeran sampingan seperti di keramaian orang-orang.


Ngomongin opening dan ending music animasi ini menurut gua cukup cerdas. Opening-nya (Harebare Fanbare oleh Mimi Meme MIMI) lebih memikat bagi penonton anak-anak apalagi diperankan oleh karakter yang lovely, Tsumugi. Opening-nya seperti ingin menarik anak-anak agar mau menonton ceritanya, di saat anak-anak suka, otomatis orang tuanya menyaksikan bersama anaknya. Jadi pesan animasi tentang family-nya akan lebih dapat di saat sekeluarga menonton bersama. Gua lebih suka ending-nya (Maybe oleh Brian the Sun) yang lebih menenangkan hati.


KESIMPULAN

Overall, anime ini menurut gua salah satu animasi slice of life terbaik yang pernah gua tonton. Gua akan kasih nilai 88 dari 100 untuk animasi ini.  Mungkin jarang ditemui animasi dengan cerita bagaikan diajak untuk berwisata kuliner. Gua merekomendasikan ini untuk kalian yang suka makan, yang gak suka makan maupun yang suka melihat orang masak, gua yakin setelah tonton animasi ini, nafsu makan dan hobi memasak kalian akan menggelora. Dan juga untuk orang tua maupun yang akan jadi orang tua, ada gambaran gimana sih mengurus anak kecil, karena gua tahu kalau jadi orang tua itu, hmph,  merepotkan.


Okeh, karena sejam lagi matahari akan menyembunyikan dirinya, dan akan ada momen buka puasa, jadi gua akhiri bahasan kali ini karena gua makin rindu Si Rup. 

—dari tadi ngomongin makanan mulu, laper bang?

Siapa yang ngomongin makanan? Gua ngomongin sirup, itu minuman! 

sama aja lah 

Sebelum gua akhiri, seperti biasa, gua tutup tulisan ini dengan memberikan beberapa takjil, eh quote buat kalian (terinspirasi dari karakter Kohei) : 

sudah kuduga kau laper bang! 

"Bahagia itu sederhana, mungkin gak semua manusia merasa bahagia di atas kesederhanaan, tetapi tetap saja, bahagia itu sederhana." ~MNA, 2017



Tulisan Merepotkan Lainnya

5 Komentar

Budayakan berkomentar dahulu meskipun itu merepotkan

Keluh Kesah Pembaca